Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Oktober 2010

Merawat Transmisi Otomatis


MESKIPUN bukan sesuatu yang baru, transmisi otomatis baru mulai populer di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini, apalagi kalau bukan karena kemacetan lalu lintas yang kian meningkat.

Mobil bertransmisi memang otomatis lebih nyaman dibanding mobil bertransmisi manual, namun perangkat ini membutuhkan perhatian khusus karena teknologinya yang tidak sesederhana manual. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para penggunanya, agar kenyamanan yang diberikan oleh transmisi ini bertahan lama.

Seperti perangkat lain yang membutuhkan pelumasan, transmisi otomatis juga membutuhkan pergantian pelumas. Tetapi Anda juga harus memperhatikan jenis transmisi otomatis seperti apa yang digunakan pada mobil Anda. Karena saat ini transmisi CVT juga semakin populer.

Oleh karena itu ada baiknya Anda menyempatkan membaca buku petunjuk kendaraan (manual book) agar tidak salah dalam memperlakukan kendaraan kesayangan Anda. Masing-masing kendaraan terkadang berbeda dalam menentukan masa penggantian pelumas. Ada yang tiap 20-30 ribu km, tetapi ada juga yang hingga 40 ribu km.

Yang pasti, dalam hal ketinggian, level pelumas harus terpelihara selalu berada pada kondisi cukup. Pelumasan yang berlebih akan menjadikannya berat sementara kalau kurang dapat menimbulkan kerusakan serius.

Jika kita perhatikan pada tuas transmisi otomatis akan tertera deretan huruf P-R-N-D. Saat dikendarai, pengemudi umumnya selalu bermain antara posisi D (drive) dan N (neutral). Saat berhenti untuk waktu yang lebih dari 10 detik, biasakanlah untuk memindahkan tuas transmisi ke posisi N terutama pada lampu setopan.

Selain untuk menghindari keausan berlebihan pada sistenm transmisi, cara ini sangat efektif mengurangi keausan komponen rem dan sekaligus mengurangi beban mesin yang ujung-ujungnya dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar.

Tombol overdrive (OD on/off) sebaiknya digunakan hanya ketika Anda ingin segera mendahului kendaraan di depan atau menyusuri jalan mendaki. Biarkan selalu pada kondisi on agar transmisi dapat mencapai posisi gigi tertinggi. Jika tidak, maka transmisi akan 'bermain' 1 gigi di bawah top gear.

Jika sistem transmisi kendaraan Anda memiliki fasilitas tambahan yang umumnya dapat ditandai dengan melihat kode P-R-N-D-3-2-L, Anda bisa memanfaatkan kelebihan ini saat mendahului kendaraan atau mendaki layaknya mengoperasikan transmisi manual. Anggap saja L adalah gigi 1, 2 adalah gigi 2 dan seterusnya.

Karena dengan cara ini mampu meningkatkan performa transmisi otomatis, maka sejumlah produsen justru melengkapi transmisi otomatis mereka dengan tambahan mode manual seperti pada mobil mewah sekelas Mercedes-Benz. Bahkan banyak kendaraan kelas menengah juga mulai menggunakan fitur ini.

Memilih Bensin yang Tepat untuk Kendaraan


HINGGA saat ini, masih banyak pemilik kendaraan yang masih bingung dalam memilih bensin jenis apa yang pas untuk tunggangan kesayangannya. Oleh karena itu, kami kembali menurunkan artikel ini sebagai pencerahan.

Bahan bakar bensin atau dengan nama lain petrol (biasa disebut gasoline di Amerika Serikat dan Kanada) adalah cairan olahan dari minyak bumi yang sebagian besar tersusun dari hidrokarbon yang digunakan pada mesin pembakaran dalam (internal combustion engine/ICE).

Bensin memiliki nilai okktan yaitu angka yang menunjukkan berapa besar tekanan maksimum (kompresi) yang bisa diberikan di dalam mesin sebelum bensin terbakar secara spontan. Pasalnya, campuran bensin dan udara (berbentuk gas) dapat terbakar sendiri sebelum terkena percikan api busi ketika ditekan oleh piston saat langkah kompresi. fenomena ini disebut dengan istilah knocking alias ngelitik.

Makin tinggi angka oktan, makin kuat ia manahan kompresi. Oleh karena itu, makin tinggi perbandingan kompresi mesin, makin tinggi angka oktan bensin yang dibutuhkan.

Untuk mengetahui jenis bensin apa yang dibutuhkan oleh kendaraan, kita bisa melihat spesifikasi mesinnya. Produsen kendaraan umumnya mencantumkan angka rasio kompresinya.

Untuk kendaraan berkompresi antara 7:1 hingga 9:1,cukup mengkonsumsi bensin premium dengan angka oktan 88. Sementara mesin dengan kompresi 9,1:1 sampai 10:1 sebaiknya menggunakan pertamax atau bensin sejenis yang memiliki angka oktan 92. Untuk kendaraan dengan mesin betkompresi tinggi dengan perbandingan 10,1:1 keatas sebaiknya menggunakan pertamax plus dengan kadar oktan 95.

Bagaimana jika penggunaan bahan bakar tidak tepat?

Penggunaan bensin beroktan rendan pada mesin dengan kompresi tinggi sangat tidak dianjurkan.

Campuran bensin dan udara dalam silinder mesin akan terbakar dengan sendirinya sebelum busi menyala sehingga timbul suara ngelitik. Ledakan prematur tadi justru akan menahan langkah piston menuju puncak.

Ketika busi menyala pun, hanya tinggal sedikit campuran bahan bakar dan udara yang bisa dibakar sehingga ledakan yang dihasilkan menjadi lemah alias tidak optimal. Padahal saat itulah dibutuhkan ledakan untuk mendorong piston sekuat mungkin guna memutar poros engkol.

Dampaknya, tenaga mesin pun turun drastis, sementara emisi gas buang bertambah dan penggunaan bahan bakar menjadi lebih boros karena bensin yang masuk dalam mesin tidak sepenuhnya dikonversi menjadi tenaga gerak akibat proses pembakaran tidak berjalan sempurna.

Dengan kata lain, jika mesin berkompresi tinggi dipaksakan mengonsumsi bensin beroktan rendah atas nama untuk penghematan, itupun akan jauh panggang dari api. Karena selain konsumsi bensin justru lebih boros, mesin akan lebih sering bermasalah akibat 'kurang vitamin'.

Bahkan pada kondisi-kondisi tertentu, ledakan prematur yang berkesinambungan tadi sanggup menciptakan panas berlebihan di kepala piston yang dapat menyebabkan jebolnya kepala piston.

Sebaliknya, untuk mesin berkompresi rendah juga sebaiknya tidak mengonsumsi bensin beroktan tinggi. Selain harga bensinnya yang lebih mahal dan justru menjadi boros dalam hal biaya, cara ini tidak membuat performa mesin meningkat secara signifikan. Kalaupun ada peningkatan, hal itu tidak lebih akibat dari sugesti yang Anda tumbuhkan.

Gunakan bensin dengan oktan yang sesuai dengan kebutuhan mesin Anda.

Kompresi mesin vs angka oktan bensin

1:7 – 1:9 menggunakan 88 (Premium)
1:9,1 – 1:10 menggunakan bensin beroktan 92 (Pertamax)
1:10,1 – 1:11 menggunakan bensin beroktan 95 (Pertamax Plus).

CATATAN:

Angka-angka di atas ini tidak berlaku bagi mesin-mesin yang menggunakan perangkat forced induction seperti turbocharger dan supercharger.

Umumnya, mesin dengan berfitur forced induction memiliki perbandingan kompresi yang rendah, bahkan lebih rendah dibanding mesin konvensional berkompresi rendah. Meskipun demikian, mesin-mesin dengan turbo maupun supercharger tidak disarankan menggunakan bensin beroktan rendah.

Fungsi supercharger maupun turbocharger adalah untuk memaksa dan mempercepat udara sebanyak-banyaknya masuk ke dalam silinder. tambahan udara inilah yang menyebabkan tekanan kompresi pada mesin turbo tetap tinggi akibat udara yang masuk lebih padat.

Jadi, mesin tersebut tetap membutuhkan oktan bahan bakar yang tinggi.

my fhoto

Nicks

NIcky

Nicko Novaliantama

slide